Sabtu, 07 Januari 2012

The First

Awal kehidupan gue, berada pada tingkat kegembiraan teratas dan keterpurukan yang memprihatinkan. Manusia tidak pernah diberikan pilihan, dengan keluarga mana mereka akan hidup, di negara mana mereka akan beredar, atau dengan spesies apa mereka akan tumbuh. Tapi akan lebih indah ketika kita menerima, menjalani, dan melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tujuan hidup kita dengan ikhlas. Seperti gue, selalu menerima hidup dengan keluarga sederhana, kakak-kakak yang hyper bawel dengan tontonan gosip di televisi, nyokap yang super aktif ngingetin gue shalat, bokap yang selalu bawain gue Dunkin Donat sepulang kerja. Gue bersyukur, dan akan terus bersyukur. 
Muhammad Robbi Nugraha, itu kalimat yang tercantum pada kolom nama di Akta Kelahiran gue. Diberikan oleh seorang Ibu yang sebelumnya pernah melahirkan 3 bayi di kota yang sama, dan gue juga jadi ikut-ikutan cek-out di kota yang sama. Sejak kecil, gue udah rewel banget. Keliatan dari wajah polos gue, sering banget gak berkedip ngeliat cewek. Normal dong ya. Entah kenapa, gue waktu kecil sangat amat terobsesi dengan mainan robot. Dan itu gue tiru kalo dapet kardus bekas, dengan melobangi sisi kiri sebagai tangan kiri, sisi kanan sebagai tangan kanan, dan sisi atas buat kepala gue yang gede yang bentuknya bujur sangkar. Dengan pede-nya berlarian keluar rumah dengan menggenggam sebatang kayu, dan berteriak kepada seorang pedagang warung, "Nenek sihir ubanan, aku mau jajan boleh ya?" Memalukan memang, gue gak tau juga ekspresi nyokap kalo tau itu. 
Obsesi gue yang lain, gue termasuk anak yang maniak banget sama jajanan. Apapun itu, kecuali yang barbau durian, melon, salak, pisang, pasti gue merengek minta dibeliin. Nyokap sibuk dengan pasiennya, karena dia Bidan. Bokap juga belum balik, dia pegawai swasta di Universitas swasta juga. Gak pernah keabisan akal, gue yang masih kecil dengan polosnya ngambil jajanan di warung tersebut. Sampai suatu hari, nyokap nge-cek jajanan gue dan harganya sampai 100ribu. Itu gue bingung, perasaan gue cuma jajan yang kecil-kecil seperti kerupuk kecil, mie kecil, bahkan teh botol kecil. Gak ada komentar dari nyokap, dia tegar banget menanggapi gue yang berlebihan untuk urusan jajan. Sampai tetangga tau hal itu, mereka sindir gue. Apa? terus salah gue? salah bentuk kepala gue yang bujur sangkar? atau salah jambul nenek gue? Anak lo ber-sepeda ria dan akhirnya masuk got, nyokap-bokap gue biasa aja. Capek ya ngurus tetangga bermulut lebar kaya lo.
Kasian.
Bersambung ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar